Tampilkan postingan dengan label Resensi Novel OK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Novel OK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 April 2008

Sepotong Senja Untuk Pacarku


Tuesday, 08 April 2008

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

–Cerpen Pililihan Kompas 1993

chek out this novel ...great novel from seno gumira adjidarma


Senin, 07 April 2008

Resensi Soe Hok GIE *Catatan Harian Seorang Demonstran*


Catatan Seorang Demonstran - Soe Hok Gie

Neh Buku dan kisah nyata yang kerennn banget menurut gw ..belum lagi pas di film in dibintangin ma orang yang cool abis Nicholas S .. oupss makin membuat cinta gw ma neh orang dan neh buku makin mencapai tingkat teratas.

Soe Hok Gie (17 Desember 1942 - 16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia angkatan 60-an. Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA-nya di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film yang disutradarai Riri Riza, Gie, dengan Nicholas Saputra berperan sebagai Hok Gie.

"Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidsak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian" (Soe Hok Gie)

"Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda" (Soe Hok Gie)

"Lebih baik diasingkan, dari pada menyerah pada kemunafikan" (Soe Hok Gie)

"Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata "Ya" atau "Tidak", meskipun Cuma di dalam hatinya" (Soe Hok Djin - Kakak Soe Hok Gie)

Cuma gw aga kecewa dengan hasil resensi dari beberapa media mengenai buku ini, emang sih gw bukan pakar politik atau pengamat sosial, i am nobody jika dibandingkan dengan penulis-penulis itu tapi yang gw ngga begitu sependapat adalah kenapa mereka kurang bisa mengappreciate buku sekeren ini, dengan tidak membahas kekuatan2 yang bisa ditonjolkan dalam buku ini. Mereka bilang kalau buku seperti ini Cuma cocok sebagai buku ”reuni” anak2 FSUI angk GIE, jadi sebenernya buku ini kurang layak terbit, atau ada lagi yang bilang kalau membaca buku ini seperti sedang membaca buku silat, dan masih buanyak komentar2 ngga enak lainnya. PADAHAL gw menilai buku ini adalah buku sejujur-jujurnya buku (dengan catatan bahwa jika dan hanya jika proses editing yang terjadi telah dipertimbangkan agar sama sekali tidak mengurangi makna tulisan), soalnya menurut gw itulah fungsinya catatan harian; tempat kita menjadi diri kita sendiri, tempat yang paling merdeka untuk bersuara, tempat dimana tidak ada kepentingan lain selain kepuasan hati. Dalam buku ini menurut gw terlihat kejujuran pola pikir seorang Soe Hok Gie. Memang kita mungkin akan menangkap beberapa kejadian secara kurang utuh, atau ada beberapa tulisan yang mungkin kurang fokus tapi memang bukan itu intinya, Gie disini tidak sedang membuat orang mengerti tentang pola pikirnya, dan Gie disini juga tidak sedang dalam keadaan jumawa untuk memamerkan hasil karyanya oleh karena itu lihatlah ini sebagai karya Gie yang terjujur dan apa adanya, tanpa ada maksud tambahan lain, misalnya seperti pengungkapan kebenaran sejarah, dll. Tapi justru dari situ lah kita sudah bisa menilai betapa hebatnya sosok manusia satu ini, Brillian. Walaupun gw ngga setuju 100% dengan pemikiran2nya tapi gw menilai pemikiran dia dan cara dia bersikap adalah sesuatu yang sangat inspiratif dan banyak membangkitkan semangat. Must read book for us, young generation.. renungan buat kita atas apa yang telah kita lakukan selama ini, karena kita adalah generasi 40 tahun di bawah GIE, yang artinya adalah seharusnya pemikiran dan perjuangan yang kita lakukan sekarang bisa jauh lebih maju dari yang GIE tunjukkan, karena memang perjuangan belum berakhir dan tongkat estafet itu sudah ada di kita sekarang! Oh ya satu lagi salut buat Mira Lesmana, Riri Riza dan segenap kru film yang bisa ngangkat cerita ini dengan apik.. kalau ngga dibuat film nya, mungkin sampai dengan saat ini kita ngga akan pernah kenal sama yang namanya SOE HOK GIE. Jujur aja gw ngga nyangka film yang sama sekali ngga punya nilai jual secara komersil ini berhasil menjadi salah satu film box office. Dan sebelumnya gw juga minta maaf kalau selama ini sempet menganggap sebelah mata terhadap insan2 perfilman indonesia

Resensi Novel Fira Basuki


D
ari zaman-zaman masih SMU gw dah keranjingan sama novel-novel yang kata orang-orang aneh banget bahasanya..tapi bagi gw bahasanya asyk banget dan bebas banget dalam mengungkapkan eksperesinya. beberapa novelis andal yang membuat gw harus sering-sering mengunjungi toko buku diantaranya Fira Basuki, Djenar Maesa Ayu, Seno Gumira Adjidarma, Dee etc. Karya yang paling menarik dari Fira adalah trilogi jendela-jendela, pintu dan atap. kisah yang sangat mengharukan dan menggelitik keinginan untuk terus dan terus membaca. seakan ada candu yang tak bisa di hentikan ditambah dengan secangkir kopi dan pisang goreng.. adduhhh komplit dah. Disini saya akan coba uraikan resensi trilogi jendela-jendela, pintu, atap nya FIRA BASUKI. moga ada juga yang suka dan segera berburu novel keren ini.

1 .Jendela-Jendela *Fira Basuki* Sebuah novel karangan Fira Basuki. Bercerita seorang perempuan seorang istri. June Larasati Subagio, wanita jawa yang berkesempatan mengeyam pendidikan di Amerika, dan ketemu jodoh dengan Jigme Tshering laki-laki Tibet teman kuliahnya.

June dan Jigme sampai ke jenjang pernikahan, banyak pengorbanan yang dilakukan Jigme untuk menikah dengan June, sampai berpindah agama mengikuti agama June. Jigme orang tipikal yang sabar, pekerja keras, dan teramat sayang terhadap June.

Mereka hidup di Singapura, untuk alasan kedekatan June ke Indonesia. Di Singapura kehidupan mereka jauh dari kemewahan, mereka hidup dalam apartemen murah. June yang notabene datang dari keluarga lumayan kaya harus hidup kekurangan, Jigme yang hanya sebagai produsen Production House penghasilannya tidak mencukupi. June harus bersedia tinggal di apartemen yang sempit, mencuci sendiri, memasak dan pekerjaan lainnya.

Semenjak kejadian keguguran mereka berdua sudah jarang berhubungan, Jigme makin sibuk dengan kerjaan, begitupun June. Sampai akhirnya June selingkung dengan sahabatJigme dan teman dia. Tetapi Jigme alih-alih menyalahkan June dia malah menyalahkan dia sendiri, begitulah Jigme suami yang teramat baik.

Cerita Jendela menurut gue terlalu biasa, apakah karena June bisa sekolah di Amerika, atau karena June menikah dengan orang Tibet? atau mereka bisa hidup di Singapura.
Satu hal yang gue dapatkah bisa melihat sebuah sudut dari Singapura (diluar itu fakta atau fiktif). Cerita novel Jendela banyak mengisahkan cerita pribadi Fira Basuki, mulai dari sekolah di Putsburg, menikah sama orang Tibet dan tinggal di Singapura.
Tapi untuk dibaca di bis, recomended karena cerita ringan dan bahasa yang ringan pula. Namun itu gue ga dapatkah suprise-suprise dari ceritanya (******) keren euyy

2. Pintu

This message is my personal appreciation on Pintu, or Door or perhaps Gate, a novel written by a young Indonesian writer Fira Basuki. It is a story about a Javanese, Indonesian, called Bowo and his metaphysics and modernity adventure mixed together. The novel is written in popular Indonesian, and with such an interesting theme should have been able to be a very nice novel. However, some parts of the novel suffer from caricatural and cliché exposition that may hinder the readers to better appreciate the novel.

Jangan duduk di depan pintu, nggak ilok (tidak baik)”, begitulah kalimat yang bisa anda baca pada salah satu halaman novel berjudul Pintu karya Fira Basuki. Mungkin terkesan mengada-ada, tapi itulah kenyataan dari sebuah budaya Jawa yang sering dilontarkan orang-orang tua dan sampai saat ini masih banyak terdengar bila kita berada di kampunng-kampung di Jawa.

Buku ini bercerita tentang seorang pemuda, Bowo, yang juga berperan sebagai narator tunggal novel ini. Sang tokoh dipaparkan sebagai seseorang yang memiliki mata ketiga, mata yang mampu melihat lebih dari hal-hal yang kasat mata. Cerita-cerita metafisik mendominasi novel ini. Semenjak dari kelahirannya , perjalanannya ke makam leluhurnya -- yakni Sunan Kalijaga --, persahabatannya dengan jin, pelet, reinkarnasi, hantu seorang perempuan cantik bernama Anna, voodoo, kisah-kisah dari Tibet, pertemuannya dengan seorang gadis kecil yang memanggil seperti mantan kekasihnya yang telah meninggal dilebur jadi satu. Semua itu dicampur dengan simbol-simbol kemodernan, yakni Amerika, informatika, email.

Bowo sendiri digambarkan sebagai seorang yang cerdas, nakal, dan berkarakter seperti seorang yang diyakini mempengaruhinya, Sunan Kali jaga. Bowo menceritakan sedikit masa sekolahnya di Jakarta, kemudian dilanjutkan pengalaman berkuliahnya di ITB, dan akhirnya perkuliahannya di Chicago. Kebanyakan tokoh dalam novel ini adalah perempuan. Adik Bowo, June. Kekasihnya, Putri. Ibunya. Eyangnya, dipanggil Yanti. Seorang wanita yang tergila-gila padanya, Erna. Kekasihnya yang lain, Paris, seorang istri dari suami yang ringan tangan. Sampai istrinya, Aida. Penulis membentuk karakter-karakter para perempuan itu dengan menceritakan hubungannya dengan mereka dan penceritaan inilah yang membentuk novel Pintu ini. Penceritaan Bowo menggunakan bahasa yang -- mengutip Sapardi-- lancar, yang pada dasarnya adalah bahasa Indonesia sehari-hari, bukan sepenuhnya bahasa baku. Mode penceritaan semacam ini mampu membuat cerita mengalir dengan lancar layaknya air, dan tak kalah valid dengan penggunaan bahasa daerah seperti yang sering dilakukan, misalnya, oleh Kuntowijoyo atau NH Dini.
3. ATAP

Bicara soal atap lom baca bukunya aja gw udah tau pasti keren abis, karena gak semua orang bakal bisa bercerita dan menulis lancar tentang atap, apa indahnya atap diceritain ya nggak, tapi sumpe gw sendiri suka ma atap, kalo gw punya rumah yang atap nya bisa gw panjat, pasti gw dah nangkring seharian disana. sekedar menulis atau membaca. atau sekedar memperhatikan lalu lalang manusia. hmm kalo malam hari alangkah indahnya duduk di atap melihat bintang ...ooouuhhhhhh ..kereeeen abis pastinya.

hmmm untuk yang terakhir ini gw saranin baca n beli sendiri hahahahhaha