Senin, 07 April 2008

Resensi Soe Hok GIE *Catatan Harian Seorang Demonstran*


Catatan Seorang Demonstran - Soe Hok Gie

Neh Buku dan kisah nyata yang kerennn banget menurut gw ..belum lagi pas di film in dibintangin ma orang yang cool abis Nicholas S .. oupss makin membuat cinta gw ma neh orang dan neh buku makin mencapai tingkat teratas.

Soe Hok Gie (17 Desember 1942 - 16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia angkatan 60-an. Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA-nya di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film yang disutradarai Riri Riza, Gie, dengan Nicholas Saputra berperan sebagai Hok Gie.

"Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidsak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian" (Soe Hok Gie)

"Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda" (Soe Hok Gie)

"Lebih baik diasingkan, dari pada menyerah pada kemunafikan" (Soe Hok Gie)

"Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata "Ya" atau "Tidak", meskipun Cuma di dalam hatinya" (Soe Hok Djin - Kakak Soe Hok Gie)

Cuma gw aga kecewa dengan hasil resensi dari beberapa media mengenai buku ini, emang sih gw bukan pakar politik atau pengamat sosial, i am nobody jika dibandingkan dengan penulis-penulis itu tapi yang gw ngga begitu sependapat adalah kenapa mereka kurang bisa mengappreciate buku sekeren ini, dengan tidak membahas kekuatan2 yang bisa ditonjolkan dalam buku ini. Mereka bilang kalau buku seperti ini Cuma cocok sebagai buku ”reuni” anak2 FSUI angk GIE, jadi sebenernya buku ini kurang layak terbit, atau ada lagi yang bilang kalau membaca buku ini seperti sedang membaca buku silat, dan masih buanyak komentar2 ngga enak lainnya. PADAHAL gw menilai buku ini adalah buku sejujur-jujurnya buku (dengan catatan bahwa jika dan hanya jika proses editing yang terjadi telah dipertimbangkan agar sama sekali tidak mengurangi makna tulisan), soalnya menurut gw itulah fungsinya catatan harian; tempat kita menjadi diri kita sendiri, tempat yang paling merdeka untuk bersuara, tempat dimana tidak ada kepentingan lain selain kepuasan hati. Dalam buku ini menurut gw terlihat kejujuran pola pikir seorang Soe Hok Gie. Memang kita mungkin akan menangkap beberapa kejadian secara kurang utuh, atau ada beberapa tulisan yang mungkin kurang fokus tapi memang bukan itu intinya, Gie disini tidak sedang membuat orang mengerti tentang pola pikirnya, dan Gie disini juga tidak sedang dalam keadaan jumawa untuk memamerkan hasil karyanya oleh karena itu lihatlah ini sebagai karya Gie yang terjujur dan apa adanya, tanpa ada maksud tambahan lain, misalnya seperti pengungkapan kebenaran sejarah, dll. Tapi justru dari situ lah kita sudah bisa menilai betapa hebatnya sosok manusia satu ini, Brillian. Walaupun gw ngga setuju 100% dengan pemikiran2nya tapi gw menilai pemikiran dia dan cara dia bersikap adalah sesuatu yang sangat inspiratif dan banyak membangkitkan semangat. Must read book for us, young generation.. renungan buat kita atas apa yang telah kita lakukan selama ini, karena kita adalah generasi 40 tahun di bawah GIE, yang artinya adalah seharusnya pemikiran dan perjuangan yang kita lakukan sekarang bisa jauh lebih maju dari yang GIE tunjukkan, karena memang perjuangan belum berakhir dan tongkat estafet itu sudah ada di kita sekarang! Oh ya satu lagi salut buat Mira Lesmana, Riri Riza dan segenap kru film yang bisa ngangkat cerita ini dengan apik.. kalau ngga dibuat film nya, mungkin sampai dengan saat ini kita ngga akan pernah kenal sama yang namanya SOE HOK GIE. Jujur aja gw ngga nyangka film yang sama sekali ngga punya nilai jual secara komersil ini berhasil menjadi salah satu film box office. Dan sebelumnya gw juga minta maaf kalau selama ini sempet menganggap sebelah mata terhadap insan2 perfilman indonesia